Halaman

Sabtu, 09 November 2019

Gangraen Radix


Gangraen Radix

            Defenisi Gangraen Radix

Gangren radiks adalah tertinggalnya sebagian akar gigi. Jaringan akar gigi yang tertinggal merupakan jaringan mati yang merupakan tempat subur bagi perkembangbiakan bakteri.Gangren radiks dapat disebabkan oleh karies, trauma, atau ekstraksi yang tidak sempurna.
Gigi dilihat dari pandangan mata mempunyai dua bagian yang terbesar yaitu mahkota gigi dan akar gigi. Pada kondisi normal mahkota gigi adalah bagian yang tampak di rongga mulut dan akar gigi terletak di dalam gusi. Pada kondisi tertentu gigi manusia tidak utuh lagi dan hanya tinggal sisa akar gigi.
Biasanya gangraen radix dapat menyerang siapa saja, tapi kalau gangraen radix yang di sebabkan oleh proses bahteriologi berdasrkan data yang ada di Puskesmas Muaro Paiti itu kebanyakan yang di serang adalah kelompok umur 40 tahun keatas dan yang banyak kena adalah berjenis kelamin perempuan


Gigi dengan kondisi sisa akar yang kronis menyebabkan jaringan periapikal rentan infeksi (gangren radik) karena jaringan pulpa yang mati merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. Melalui foramen apikal gigi, mikroorganisme penyebab infeksi pada jaringan pulpa dapat menjalar ke jaringan periodontal di sekitar apeks gigi, menyebabkan keradangan atau infeksi jaringan

Penatalaksanaan perawatan gigi dengan kondisi sisa akar (Gangren Radik) Penatalaksanaan gigi dengan kondisi sisa akar harus memperhatikan kemungkinan terjadi kelainan pada periapikal yang terjadi pada gigi tersebut. Tindakan medis yang harus dilakukan tergantung dari kelainan periapikal yang ada. Medikasi Gigi dengan kondisi sisa akar yang memiliki kelainan pada periapikal yang bersifat akut, sebaiknya dilakukan terapi medikasi terlebih dahulu, ekstraksi gigi yang memiliki abses di daerah periapikalnya apabila dalam keadaan infeksi akut sebaiknya dihilangkan dulu infeksinya kemudian dilakukan ekstraksi. Hal tersebut karena ekstraksi pada stadium infeksi akut tidak hanya dikuatirkan terjadi penyebaran infeksi tetapi juga kerja anastesi local yang kurang efektif, sehingga menimbulkan rasa sakit yang menambah penderitaan pasien, meskipun ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa ekstraksi gigi pada stadium akut justru akan menyebabkan terjadinya drainase pus dan akan menyebabkan penyembuhan dini
Pencabutan tidak sempurna yang ditandai dengan tertinggalnya sebagian akar bahkan mahkota, seringkali terjadi apabila saat pencabutan mahkota gigi sudah sangat rapuh. Ini ditandai dengan bentuk lubang gigi yang sudah sangat besar atau adanya kelainan bentuk akar yang menyebabkan kesulitan saat pencabutan.
 Rasa sakit dan bengkak menunjukkan reaksi tubuh terhadap infeksi gigi. Ditambah lagi terjadi pembentukan sekumpulan nanah juga sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi di sekitar akar gigi yang tinggal sisa akar tadi. Perlu diketahui, sisa gigi atau akar yang terinfeksi merupakan fokus infeksi atau asal infeksi yang dapat terjadi di organ tubuh lain seperti di kulit, mata, THT, saraf dan lainnya.


Gigi atau sisa akar seperti ini sebaiknya segera dicabut, tapi tentunya pasien disarankan untuk minum obat antibiotika beberapa hari sebelumnya. Ini untuk menekan infeksi yang telah terjadi sehingga pencabutan berjalan lancar tanpa hambatan.
Masyarakat masih banyak yang tidak memperhatikan kesehatan gigi dan mulutnya. Sisa akar gigi yang tertinggal dalam rongga mulut dibiarkan saja. Padahal akibat yang ditimbulkan sisa akar gigi banyak sekali. Sisa akar gigi bisa mengakibatkan nyeri kepala berkepanjangan, bau mulut tidak enak dan trigger pertumbuhan kista bahkan neoplasma.
Sisa akar gigi biasanya sudah tidak vital lagi,pulpanya mati. Gigi mengalami kerusakan yang parah dan setiap sisa akar gigi berpotensi untuk terjadi infeksi akar gigi dan infeksi jaringan penyangga gigi. Infeksi ini menimbulkan rasa sakit dari ringan sampai hebat, gusi mengalami pembesaran, terjadi pernanahan ,bengkak di wajah sampai sukar membuka mulut (trismus). Pasien terkadang menjadi lemas karena susah makan. Pembengkakan yang terjadi di bawah rahang ,kulit memerah, teraba keras bagaikan kayu, lidah terangkat keatas dan rasa sakit yang menghebat sangat berbahaya dan jika terlambat penanganan dapat merenggut jiwa ( Ludwig’s angina ).
Infeksi pada akar gigi maupun jaringan penyangga gigi dapat mengakibatkan migrasinya bakteri ke organ yang lain lewat pembuluh darah. Teori ini dikenal dengan Fokal infeksi. Bakteri yang berasal dari infeksi gigi masuk ke organ vital lain dan memperbesar resiko penyakit jantung,ginjal,lambung,,persendian, dan lain sebagainya. Jadi gigi yang terinfeksi menjadi pintu masuk bagi bakteri untuk menyebar ke seluruh tubuh.

..     Diagnosa

1.      Gejala Umum

Gejala yang didapat dari gangrene bisa terjadi tanpa keluhan sakit, dalam keadaan demikian terjadi perubahan warna gigi, dimana gigi terlihat berwarna kecoklatan atau keabu-abuan. Pada inspeksi sudah tidak terlihat lagi bagian dari mahkota gigi,. Pada gangren radiks, tidak dilakukan pemeriksaan sondasi dan CE, pada perkusi tidak menimbulkan nyeri

2.      Gejala Klinis

Penatalaksanaan sisa akar gigi ini tergantung dari pemeriksaan klinis akar gigi dan jaringan penyangganya. Akar gigi yang masih utuh dengan jaringan penyangga yang masih baik, masih bisa dirawat. Jaringan pulpanya dihilangkan, diganti dengan pulpa tiruan, kemudian dibuatkan mahkota gigi. Akar gigi yang sudah goyah dan jaringan penyangga gigi yang tidak mungkin dirawat perlu dicabut. Sisa akar gigi dengan ukuran kecil (kurang dari 1/3 akar gigi) yang terjadi akibat pencabutan gigi tidak sempurna dapat dibiarkan saja. Untuk sisa akar gigi ukuran lebih dari 1/3 akar gigi akibat pencabutan gigi sebaiknya tetap diambil. Untuk memastikan ukuran sisa akar gigi, perlu dilakukan pemeriksaan radiologi gigi.








C. Berdasarkan data sejak bulan Januari sampai bulan Agustus 2019 terdapat angka kunjungan dengan kasus Gangraen Radix di Poli Gigi Puskesmas Muaro paiti adalah sebagai berikut


.  Terapi Gangraen Radix

Ekstraksi gigi merupakan suatu prosedur bedah yang dapat dilakukan dengan tang, elevator, atau pendekatan transalveolar, bersifat ireversibel dan terkadang menimbulkan komplikasi. Ekstraksi gigi yang ideal adalah pencabutan sebuah gigi atau akar yang utuh tanpa menimbulkan rasa sakit, dengan trauma yang seminimal mungkin pada jaringan penyangganya sehingga luka bekas pencabutan akan sembuh secara normal dan tidak menimbulkan masalah prostetik pasca-bedah.

  Ekstraksi gigi sering dikategorikan menjadi dua macam yakni ekstraksi simpel dan ekstraksi bedah/surgical. Ekstrasi simpel adalah ekstraksi yang dilakukan pada gigi yang terlihat dalam rongga mulut, menggunakan anestesi lokal dan menggunakan alat-alat untuk elevasi bagian gigi yang terlihat. Ekstrasi bedah adalah ekstraksi yang dilakukan pada gigi yang tidak dapat dijangkau dengan mudah karena berada di bawah garis gingiva atau karena belum erupsi secara keseluruhan. Dalam ekstraksi bedah, dilakukan sayatan pada gusi untuk menjangkau gigi. Dalam beberapa kasus, gigi tersebut harus dipecah menjadi beberapa bagian sebelum dicabut.

E. Kontra Indikasi Pencabutan Gangraen Radix
                       
Terdapat beberapa kontraindikasi untuk ekstraksi gigi, dan banyak diantaranya dapat dimodifikasi dengan konsultasi dan terapi. Kontraindikasi eksodontik akan berlaku sampai dokter memberi izin atau menanti keadaan umum penderita sampai dapat menerima suatu tindakan bedah tanpa menyebabkan komplikasi yang membahayakan bagi jiwa penderita. Kontraindikasi pencabutan gigi didasarkan beberapa faktor, antara lain:

1.               Faktor Lokal

a.                   Kontraindikasi ekstraksi gigi yang bersifat setempat umumnya menyangkut suatu infeksi akut jaringan di sekitar gigi. Misalnya gigi dengan kondisi abses yang menyulitkan anestesi.
b.                  Sinusitis maksilaris akut. Sinusitis (infeksi sinus) terjadi jika membran mukosa saluran pernapasan atas (hidung,kerongkongan, sinus) mengalami pembengkakan. Pembengkakan tersebut menyumbat saluran sinus yang bermuara ke rongga hidung. Akibatnya cairan mukus tidak dapat keluar secara normal.Menumpuknya mukus di dalam sinus menjadi factor yang mendorong terjadinya infeksi sinus. Pecabutan gigi terutama gigi premolar dan molar sebaiknya ditunda sampai sinusitisnya teratasi
c.                   Radioterapi kepala dan leher. Alasan melarang ekstraksi dengan keadaan seperti tersebut diatas adalah bahwa infeksi akut yang berada di sekitar gigi, akan menyebar melalui aliran darah keseluruh tubuh dan terjadi keadaan septikemia. Komplikasi lainnya adalah osteoradionekrosis
Adanya suspek keganasan, yang apabila dilakukan ekstraksi gigi akan menyebabkan kanker cepat menyebar dan makin ganas





Tidak ada komentar:

Posting Komentar